Solusi Pengadaan
Tidak semua alat safety memberikan tingkat perlindungan yang sama. Maraknya peredaran produk non-standar dan barang palsu membuat banyak perusahaan tanpa sadar mempertaruhkan keselamatan pekerjanya. APD yang tidak memenuhi standar sertifikasi seperti SNI atau ANSI berisiko rusak saat digunakan, gagal melindungi saat terjadi kecelakaan, dan justru memperbesar dampak cedera.
Utang usaha sering kalo dipandang sebagai beban yang harus dihindari. Padahal, jika dikelola dengan tepat, utang usaha justru dapat menjadi alat pengatur arus kas yang efektif. Melalui perjanjian pembayaran tempo / termin (Term of Payment/TOP), perusahaan dapat tetap memenuhi kebutuhan operasional tanpa mengorbankan likuiditas.
Dalam proses pengadaan MRO (Maintenance, Repair, dan Operation), biaya pengiriman seringkali menjadi komponen yang diam-diam membengkak. Terutama untuk barang-barang berat ataupun komponen mesin biaya ongkir dapat mencapai sebagian besar dari total biaya pembelian. Masalahnya, banyak perusahaan masih melakukan pembelian dari berbagai vendor terpisah, sehingga setiap transaksi menghasilkan paket dan ongkir sendiri-sendiri.
Di banyak perusahaan, kebutuhan MRO (Maintenance, Repair, dan Operations) datang dari berbagai divisi dan cabang mulai dari APD, alat kebersihan, sparepart mesin, hingga peralatan kantor. Karena permintaan muncul dalam volume kecil namun frekuensinya tinggi, banyak perusahaan akhirnya mengandalkan puluhan hingga bahkan ratusan supplier berbeda. Tujuannya sederhana yaitu mencari barang termurah dan tercepat yang tersedia saat itu.
Di banyak perusahaan yang memiliki lebih dari satu cabang, proses pembelian sering kali menjadi salah satu area yang paling sulit dikendalikan. Setiap cabang memiliki kebutuhan operasional yang berbeda, ritme kerja yang berbeda, dan kadang menggunakan vendor yang berbeda pula. Akibatnya, pengadaan barang menjadi berjalan sendiri-sendiri tanpa standar yang jelas mulai dari jenis produk yang dibeli, harga yang diterima, hingga kualitas barang yang sampai.
Di banyak perusahaan, proses pengadaan sering terhambat karena menunggu tanda tangan manajer. Ketika PR atau PO harus ditandatangani secara manual, alur menjadi lambat terutama jika manajer sedang rapat, dinas luar, atau sibuk dengan dokumen lain. Akibatnya, pembelian barang rutin tertunda dan berpotensi mengganggu operasional hingga menyebabkan downtime.
Dalam operasional perusahaan, memastikan ketersediaan barang dan material tepat waktu merupakan hal krusial untuk menjaga kelancaran pekerjaan. Baik itu APD, sparepart mesin, komponen produksi, hingga kebutuhan kantor, semuanya memiliki peran penting dalam mendukung produktivitas. Namun, dalam praktiknya masih sering terjadi kendala seperti stok yang kosong saat dibutuhkan atau harga barang yang tiba-tiba naik.
Dalam proses procurement bisnis, memilih vendor bukan hanya soal harga atau ketersediaan barang. Salah memilih pemasok dapat menimbulkan risiko seperti fraud, barang tidak sesuai, hingga keterlambatan pengiriman yang berdampak langsung pada operasional dan biaya perusahaan.
Dalam operasional industri, setiap komponen mesin memiliki peran penting dalam menjaga performa dan keselamatan kerja. Namun, masih banyak perusahaan yang tergoda menggunakan sparepart palsu karena harganya lebih murah. Padahal, keputusan ini dapat menimbulkan risiko besar seperti kerusakan mesin, downtime panjang, hingga potensi kecelakaan di tempat kerja. Alih-alih menghemat biaya, penggunaan sparepart palsu justru dapat menambah beban finansial dan mengganggu keberlangsungan produksi.
Dalam pengadaan alat kerja, harga awal sering menjadi fokus utama, padahal belum tentu mencerminkan efisiensi jangka panjang. Banyak alat yang tampak murah justru menimbulkan biaya tambahan seperti perbaikan, downtime, hingga penggantian dini.




























































































































































