
Upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya korosi disebut sebagai perlindungan korosi. Dalam pembahasan ini, terdapat tiga pendekatan utama yang digunakan, yaitu perlindungan korosi melalui penggunaan material tahan korosi, perlindungan korosi melalui pengendalian lingkungan, serta perlindungan korosi dengan memanfaatkan seng (zinc).
Perlindungan Korosi melalui Penggunaan Material Tahan Korosi
Penggunaan material yang memiliki ketahanan tinggi terhadap korosi dalam pembuatan struktur maupun mesin merupakan langkah preventif yang sangat efektif. Dengan memilih material yang tepat sejak awal, risiko terjadinya korosi dapat diminimalkan secara signifikan. Oleh karena itu, pemahaman mengenai jenis-jenis material yang memiliki daya tahan korosi tinggi menjadi hal yang sangat penting.
Material dengan Ketahanan Korosi Tinggi
Secara termodinamika, beberapa logam memiliki stabilitas yang sangat baik terhadap korosi, seperti emas dan platinum. Apabila struktur atau mesin dibuat dari material tersebut, perlindungan terhadap korosi tentu akan sangat optimal.
Namun demikian, logam mulia seperti emas dan platinum tidak sesuai digunakan sebagai material struktur karena keterbatasan sifat mekanik serta biaya yang sangat tinggi. Oleh sebab itu, yang dimaksud dengan material tahan korosi dalam konteks teknik adalah material yang secara realistis dapat diaplikasikan pada bangunan atau mesin serta memberikan keuntungan dari sisi ketahanan terhadap korosi.
Berikut ini beberapa contoh material tahan korosi yang umum digunakan:
Baja Tahan Cuaca (Weathering Steel)
Baja tahan cuaca merupakan baja karbon yang ditambahkan unsur paduan seperti kromium (Cr), tembaga (Cu), dan dalam beberapa kasus fosfor (P) dalam jumlah kecil. Material ini banyak digunakan pada komponen jembatan.
Dalam lingkungan yang sesuai, penurunan ketebalan platnya hanya kurang dari 0,3 mm dalam kurun waktu 50 tahun. Hal ini menunjukkan kinerja perlindungan korosi yang sangat baik.
Baja Tahan Air Laut
Baja tahan air laut dirancang khusus untuk lingkungan laut, seperti struktur pelindung pantai atau tiang pipa baja yang rentan terhadap cipratan air laut.
Material ini umumnya mengandung unsur Cu–Ni–P (Copper–Nickel–Phosphorus) atau Cu–Cr–P (Copper–Chromium–Phosphorus), dengan ketahanan korosi sekitar 2–3 kali lebih tinggi dibandingkan baja karbon biasa.
Saat ini penggunaannya mulai berkurang karena telah berkembang metode perlindungan lain yang lebih efektif, seperti sistem pelapisan (lining).
Baja Tahan Korosi Titik Embun Asam Sulfat
Pada boiler berbahan bakar fosil yang mengandung sulfur, gas hasil pembakaran seperti oksida sulfur (SO₃) dapat bereaksi dengan uap air membentuk asam sulfat. Kondisi ini menimbulkan korosi berat yang dikenal sebagai korosi titik embun asam sulfat.
Korosi ini tergolong sangat agresif. Pada baja karbon, ketebalan logam dapat berkurang hingga beberapa milimeter per tahun. Hingga saat ini belum ada material yang sepenuhnya tahan terhadap kondisi tersebut, termasuk baja tahan karat, titanium, maupun paduan nikel.
Sebagai solusi, digunakan baja paduan rendah dengan komposisi yang menyerupai baja tahan cuaca. Material ini mampu menurunkan laju korosi hingga sekitar 50% dibandingkan baja karbon, serta memberikan keseimbangan yang baik antara biaya, kinerja, dan masa pakai.
Pipa Baja untuk Sumur Minyak Asam (Sour Oil Well)
Pada sumur minyak yang mengandung hidrogen sulfida (H₂S), senyawa sulfida dapat menyebabkan korosi dan keretakan pada pipa baja. Proses perlakuan panas pada baja biasa justru dapat meningkatkan risiko retak di lingkungan tersebut.
Untuk itu digunakan pipa baja khusus dengan perlakuan panas yang dirancang khusus serta tambahan unsur kromium (Cr) dan molibdenum (Mo). Komposisi ini meningkatkan ketahanan terhadap retak dan korosi sehingga lebih aman digunakan pada lingkungan yang mengandung H₂S.
Ketahanan Korosi pada Baja Tahan Karat (Stainless Steel)
Baja tahan karat atau stainless steel banyak digunakan karena tampilannya mengkilap dan lebih tahan terhadap korosi. Namun, material ini tetap memiliki keterbatasan. Dalam lingkungan dengan kandungan garam atau ion klorida tinggi, stainless steel dapat mengalami korosi, retak, atau terbentuknya lubang kecil (pitting).
Untuk meningkatkan ketahanannya, dikembangkan berbagai jenis stainless steel dengan kadar karbon yang lebih rendah guna mencegah korosi antar butir.
Sebagai contoh, SUS304 memiliki kadar karbon sekitar 0,06%. Versi dengan kadar karbon 0,03% atau lebih rendah diberi kode “L” (low carbon), seperti SUS304L. Penandaan ini penting diperhatikan agar sesuai dengan kondisi lingkungan penggunaannya.
Stainless Steel Austenitik (SUS304)
Jenis ini adalah stainless steel yang paling umum digunakan karena serbaguna dan mudah dibentuk. Beberapa variannya antara lain:
- SUS309S & SUS310S: lebih tahan panas dan oksidasi karena tambahan kromium (Cr) dan nikel (Ni).
- SUS316: lebih tahan karat, terutama di lingkungan keras, berkat tambahan nikel (Ni) dan molibdenum (Mo).
- SUS304L & SUS321: dirancang agar lebih tahan terhadap korosi antar butir, sehingga cocok untuk aplikasi dengan pengelasan.
Stainless Steel Feritik (SUS430)
Jenis ini lebih tahan terhadap retak akibat korosi tegangan dibandingkan austenitik. Banyak digunakan pada knalpot, termos, pemanas air, dan penukar panas air laut.
Beberapa jenis yang telah ditingkatkan performanya:
- SUS430J1L: ketahanan karat dan kemampuan las lebih baik.
- SUS434 & SUS444: ketahanan korosi ditingkatkan dengan tambahan molibdenum (Mo).
- SUSXM27 & SUS447J1: ketahanan korosi lebih tinggi berkat penambahan kromium (Cr) dan molibdenum (Mo).
Jenis Stainless Steel Lainnya
Selain austenitik dan feritik, terdapat jenis stainless steel lain yang juga tahan korosi, antara lain:
- Stainless steel martensitik: menggabungkan ketahanan korosi dengan kekuatan mekanik yang tinggi.
- Stainless steel dua fasa (duplex): terdiri dari campuran austenitik dan feritik, dan banyak digunakan di lingkungan air laut karena ketahanan korosinya yang sangat baik.
Perlindungan Korosi melalui Pengendalian Lingkungan
Upaya pencegahan korosi dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, seperti meningkatkan ketahanan korosi pada material yang digunakan atau menambahkan sistem pelindung pada suatu struktur. Kedua cara tersebut bertujuan untuk memperpanjang usia pakai material dan menjaga kinerja struktur tetap optimal.
Selain itu, terdapat metode lain yang cukup efektif, yaitu dengan mengendalikan kondisi lingkungan tempat material beroperasi. Dengan menciptakan lingkungan yang tidak mendukung terjadinya reaksi korosi, risiko kerusakan material dapat ditekan secara signifikan. Pendekatan ini dikenal sebagai perlindungan korosi melalui pengendalian lingkungan.
Lalu, bagaimana mekanisme dan jenis-jenis metode ini?
Secara umum, perlindungan korosi melalui pengendalian lingkungan terbagi menjadi dua metode utama, yaitu, pertama, dengan menghilangkan atau mengurangi zat-zat yang berperan sebagai penyebab korosi dari lingkungan sekitar, seperti kelembaban berlebih, oksigen, atau zat kimia tertentu yang bersifat korosif. Kedua, dengan menambahkan bahan khusus yang berfungsi menghambat proses korosi. Bahan ini dikenal sebagai inhibitor korosi, yang bekerja dengan memperlambat reaksi kimia penyebab kerusakan pada permukaan material.
Melalui penerapan kedua metode tersebut, risiko terjadinya korosi dapat diminimalkan secara efektif tanpa harus selalu mengganti material atau melakukan modifikasi struktur yang kompleks.
Menghilangkan Zat Penyebab Korosi dari Lingkungan
Dalam kondisi normal, kelembaban udara dan oksigen adalah penyebab utama terjadinya korosi. Pada ruang tertutup atau semi-tertutup, korosi dapat dikurangi dengan cara menghilangkan atau menekan keberadaan zat-zat tersebut dari lingkungan sekitar. Pendekatan ini dikenal sebagai perlindungan berbasis pengaturan lingkungan atau struktur bangunan.
Sebagai contoh, di museum, galeri seni, gudang, atau hanggar yang menyimpan benda logam, perlindungan korosi dilakukan dengan mengontrol kelembaban udara menggunakan alat pengering udara (dehumidifier) dan mencegah terbentuknya embun. Salah satu caranya adalah dengan menjaga suhu ruangan tetap stabil, sehingga tidak terjadi perbedaan suhu yang ekstrem di dalam ruangan.
Untuk ruang atau wadah berukuran kecil, bahan pengering (desiccant) sering digunakan karena praktis dan efektif. Sementara itu, pada ruang semi-tertutup, udara kering atau gas inert dapat dialirkan ke dalam ruangan untuk menciptakan tekanan positif. Dengan cara ini, udara lembab dari luar tidak mudah masuk, sehingga kondisi lingkungan lebih terkendali dan risiko korosi dapat dikurang
Pengendalian Lingkungan dengan Menggunakan Inhibitor Korosi
Dibandingkan metode yang hanya menghilangkan penyebab korosi dari lingkungan, penggunaan inhibitor korosi merupakan bentuk perlindungan yang lebih aktif. Inhibitor bekerja dengan cara menghambat langsung proses terjadinya korosi.
Inhibitor korosi yang digunakan harus memenuhi beberapa syarat penting, yaitu tidak boleh membahayakan lingkungan maupun kesehatan manusia, tetap efektif meskipun digunakan dalam jumlah kecil, serta memiliki biaya yang wajar.
Saat ini, sebagian besar inhibitor korosi yang digunakan dirancang khusus untuk melindungi baja karbon, karena material ini paling banyak dipakai di berbagai aplikasi industri.
Berdasarkan cara kerjanya, inhibitor korosi umumnya dibagi menjadi tiga jenis utama, yaitu:
Inhibitor Korosi Tipe Oksidasi
Inhibitor jenis ini, seperti kromat, nitrit, dan molibdat, bekerja dengan cara membentuk lapisan pelindung tipis di permukaan baja karbon. Lapisan ini membuat permukaan logam menjadi lebih stabil, sehingga korosi sulit terjadi.
Inhibitor Korosi Tipe Adsorpsi
Inhibitor tipe ini umumnya berasal dari senyawa organik, misalnya amina. Cara kerjanya adalah dengan menempel pada permukaan logam, lalu membentuk lapisan sangat tipis yang mencegah logam bersentuhan langsung dengan zat penyebab korosi seperti air atau oksigen.
Inhibitor Korosi Tipe Pembentukan Lapisan Endapan
Inhibitor tipe ini juga bekerja dengan membentuk lapisan pelindung di permukaan logam, tetapi melalui proses pengendapan. Salah satu contoh bahan yang sering digunakan adalah polifosfat.
Lapisan pelindung dapat terbentuk melalui dua cara:
- Inhibitor langsung membentuk lapisan pelindung pada permukaan logam, atau
- Inhibitor bereaksi dengan ion logam hasil korosi, lalu membentuk lapisan pelindung yang menutup permukaan logam.
Pemanfaatan Inhibitor Korosi
Inhibitor korosi digunakan pada berbagai jenis peralatan dan sistem industri. Setiap aplikasi memiliki karakteristik lingkungan dan penyebab korosi yang berbeda, sehingga pemilihan jenis inhibitor harus disesuaikan dengan kondisi operasionalnya. Berikut ini beberapa contoh penerapan inhibitor korosi yang umum digunakan, beserta penyebab utama korosi dan jenis inhibitor yang sesuai
Pipa Air Pendingin (Sistem Sirkulasi Terbuka dan Tertutup – Media Air)
Pada sistem pendingin sirkulasi terbuka, inhibitor yang umum digunakan adalah senyawa polifosfat dan fosfonat. Sementara itu, pada sistem sirkulasi tertutup, inhibitor yang sering diterapkan meliputi senyawa nitrit, serta dalam kondisi tertentu fosfat dan molibdat.
Kedua sistem tersebut memiliki tujuan yang sama, yaitu mencegah terbentuknya karat akibat kontak dengan air. Namun demikian, penggunaan dan pembuangan inhibitor harus tetap mematuhi ketentuan serta peraturan pengendalian pencemaran air yang berlaku.
Oli Anti Karat (Penyebab: Kelembaban)
Untuk melindungi logam dari korosi akibat paparan udara lembab, digunakan inhibitor korosi tipe adsorpsi berbahan organik, seperti senyawa amina. Inhibitor ini bekerja dengan cara teradsorpsi pada permukaan logam dan membentuk lapisan pelindung tipis yang menghambat kontak langsung antara logam dan kelembaban di sekitarnya.
Material Kemasan (Penyebab: Kelembaban)
Dalam kondisi penyimpanan tertutup, risiko korosi akibat kelembaban dapat diminimalkan dengan penggunaan inhibitor korosi tipe adsorpsi, seperti dicyclohexyl ammonium nitrite. Senyawa ini efektif melindungi permukaan logam selama proses penyimpanan dengan membentuk lapisan pelindung yang mencegah reaksi oksidasi.
Bak atau Pemandian Asam untuk Proses Pickling (Penyebab: asam)
Pada proses pickling atau pencucian logam menggunakan larutan asam, digunakan inhibitor korosi tipe adsorpsi, seperti amina organik, untuk mencegah pelarutan logam secara berlebihan.
Berbeda dengan oli anti karat yang umumnya bekerja pada kondisi netral, inhibitor untuk proses pickling harus tetap efektif dan mampu melekat kuat pada permukaan logam dalam lingkungan asam yang agresif.
Contoh Penerapan Lainnya
Selain contoh di atas, inhibitor korosi juga banyak digunakan pada:
- Tangki dan pipa (media air)
- Cat pelapis (perlindungan terhadap kelembaban)
- Bagian atas menara distilasi minyak mentah (lingkungan asam)
- Sumur minyak, minyak mentah, dan pipa gas alam (paparan CO₂ dan air asin)
Perlindungan Korosi dengan Menggunakan Seng (Zinc)
Seng merupakan logam yang sangat efektif dalam melindungi baja dari korosi, terutama pada lingkungan terbuka atau paparan atmosfer. Perlindungan ini umumnya dilakukan dengan cara melapisi permukaan baja menggunakan seng melalui proses galvanisasi. Metode tersebut banyak diterapkan pada rangka dan berbagai komponen struktur baja yang digunakan di pabrik, bangunan stasiun, menara baja, gudang, serta konstruksi luar ruangan lainnya.
Seng berperan sebagai pelindung dengan dua mekanisme utama. Pertama, seng membentuk lapisan penghalang (barrier protection) yang mencegah kontak langsung antara baja dan lingkungan korosif, seperti udara lembab dan air hujan. Kedua, seng memiliki sifat proteksi katodik (sacrificial protection), yaitu kemampuan untuk terkorosi terlebih dahulu sehingga baja yang dilapisinya tetap terlindungi meskipun terjadi goresan atau kerusakan pada lapisan.
Pada bagian ini akan dibahas berbagai jenis metode perlindungan korosi berbasis seng, serta prinsip kerjanya dalam menjaga ketahanan material baja terhadap kerusakan akibat proses korosi.
Pemanfaatan Seng sebagai Material Perlindungan Korosi
Seng banyak digunakan sebagai material pelindung terhadap korosi di berbagai lingkungan, seperti pabrik, gudang, hanggar, hingga bangunan yang berada di kawasan pesisir. Kemampuannya dalam memberikan perlindungan efektif terhadap baja menjadikan seng sebagai salah satu bahan pelindung karat yang paling umum dan andal digunakan dalam berbagai aplikasi konstruksi dan industri.
Struktur Baja Berlapis Seng (Galvanis)
Struktur baja galvanis umumnya dibuat melalui proses hot-dip galvanizing, yaitu dengan mencelupkan baja ke dalam seng cair hingga seluruh permukaannya terlapisi secara merata. Namun, karena ukuran bak pelapisan memiliki keterbatasan, metode ini pada praktiknya hanya dapat diterapkan pada baja dengan panjang sekitar maksimal 15 meter.
Meskipun efektif dalam memberikan perlindungan terhadap korosi, baja yang telah dilapisi seng juga memiliki beberapa keterbatasan, khususnya dalam proses fabrikasi lanjutan seperti pengelasan. Keberadaan lapisan seng dapat menyulitkan proses pengelasan, dan panas yang dihasilkan selama pengelasan berpotensi menipiskan atau merusak lapisan seng di sekitar area sambungan.
Untuk mengatasi hal tersebut, terdapat beberapa metode yang umum diterapkan. Salah satunya adalah tidak melapisi area yang akan dilas sejak awal proses galvanisasi, sehingga bagian tersebut dibiarkan tanpa lapisan seng. Metode lainnya adalah dengan menghilangkan lapisan seng pada area yang akan dilas sebelum proses pengelasan dilakukan. Setelah pengelasan selesai, area tersebut kemudian dilapisi kembali guna mengembalikan perlindungan terhadap korosi dan memastikan ketahanan struktur tetap optimal.
Lembaran Baja Berlapis Seng
Lembaran baja berlapis seng tersedia dalam berbagai jenis, mulai dari baja tipis dengan lapisan seng murni hingga baja dengan lapisan paduan antara seng dan logam dasar. Variasi ini memungkinkan pemilihan material yang sesuai dengan kebutuhan teknis dan kondisi penggunaan.
Material ini banyak dimanfaatkan pada panel bagian dalam dan luar kendaraan, sistem pembuangan, plat pemantul panas, pipa, peralatan rumah tangga, serta berbagai aplikasi konstruksi. Penggunaannya yang luas tidak terlepas dari kemampuannya memberikan perlindungan terhadap korosi sekaligus mempertahankan kekuatan mekanis baja sebagai material dasar.
Dalam beberapa tahun terakhir, lembaran baja berlapis seng semakin populer karena dinilai serbaguna, memiliki ketahanan karat yang baik, serta mampu digunakan pada beragam aplikasi dan kondisi lingkungan.
Peran Seng pada Berbagai Jenis Korosi
Seng telah lama digunakan sebagai material pelindung terhadap korosi di berbagai lingkungan. Namun demikian, tingkat efektivitas seng sangat bergantung pada jenis korosi yang terjadi, karena setiap mekanisme korosi memiliki karakteristik dan penyebab yang berbeda. Oleh sebab itu, metode perlindungan yang diterapkan juga perlu disesuaikan dengan kondisi yang dihadapi.
Berikut ini penjelasan mengenai beberapa jenis korosi yang dapat dikendalikan dengan menggunakan seng, beserta prinsip kerjanya dan contoh penerapannya dalam kehidupan sehari-hari maupun di bidang industri.
1. Korosi Celah (Crevice Corrosion)
Pada struktur logam, seperti sambungan baut atau area pengelasan, sering terbentuk celah yang sangat sempit. Karena ruangnya terbatas, oksigen sulit masuk ke dalam celah tersebut, sehingga kadar oksigen di bagian dalam menjadi lebih rendah dibandingkan dengan bagian luar.
Perbedaan konsentrasi oksigen ini menimbulkan kondisi elektrokimia yang tidak seimbang dan memicu terjadinya korosi celah, yaitu korosi yang berkembang akibat perbedaan lingkungan antara bagian dalam dan luar celah. Akibatnya, area di dalam celah menjadi lebih rentan terhadap serangan karat.
Pada material seperti baja tahan karat, korosi celah relatif jarang terjadi karena adanya lapisan pasif alami yang melindungi permukaannya. Namun, pada lingkungan yang mengandung garam atau ion klorida, seperti air laut ion tersebut dapat terperangkap di dalam celah dan meningkatkan tingkat keasaman lokal. Setelah korosi mulai terjadi, proses kerusakan dapat berlangsung dengan cepat dan sulit terdeteksi.
Sebagai langkah pencegahan, lembaran tipis berbahan seng dapat disisipkan di antara komponen logam pada saat pemasangan baut. Seng berfungsi sebagai material pelindung tambahan yang membantu mengurangi risiko terjadinya korosi di area celah.
2. Korosi Kontak Logam Berbeda (Galvanic Corrosion)
Korosi kontak logam berbeda terjadi ketika dua jenis logam yang tidak sama saling bersentuhan dan berada dalam lingkungan yang bersifat elektrolit, seperti air laut atau air yang mengandung garam. Dalam kondisi tersebut, terbentuk sel galvanik yang menyebabkan salah satu logam mengalami korosi lebih cepat.
Logam yang lebih stabil (lebih mulia) cenderung terlindungi, sedangkan logam yang lebih aktif akan mengalami korosi terlebih dahulu. Perbedaan potensi listrik antara logam inilah yang menjadi penyebab utama korosi galvanik.
Untuk mengurangi risiko ini, lembaran seng dapat disisipkan di antara kedua logam tersebut. Seng akan bertindak sebagai logam yang “mengorbankan diri” sehingga arus perlindungan mengalir melalui seng, bukan melalui logam utama yang ingin dilindungi.
Prinsip ini juga diterapkan dalam sistem perlindungan katodik dengan anoda korban (sacrificial anode). Dengan menghubungkan baja atau logam utama ke seng, magnesium, atau aluminium, arus listrik alami akan mengalir ke material yang dilindungi. Korosi pun terjadi pada anoda korban, sementara material utama tetap dalam kondisi terlindungi.
3. Korosi Alur (Groove Corrosion)
Pada komponen logam yang disambung melalui proses pengelasan, siklus pemanasan dan pendinginan dapat mengubah struktur mikro dan sifat elektrokimia logam di sekitar area las. Perubahan ini menyebabkan perbedaan sifat listrik antara logam induk dan area las.
Akibatnya, terbentuk kondisi yang memungkinkan area tertentu, sering kali di sepanjang jalur las menjadi lebih rentan terhadap korosi. Karat kemudian berkembang mengikuti garis sambungan dan membentuk pola memanjang menyerupai alur, yang dikenal sebagai korosi alur.
Untuk mencegah terjadinya korosi jenis ini, bahan pelindung berbasis seng dapat diaplikasikan langsung pada area las. Produk tersebut tersedia dalam berbagai bentuk, seperti pita, lembaran, maupun pasta. Fungsinya adalah memberikan perlindungan tambahan pada area yang rentan sehingga ketahanan terhadap korosi tetap terjaga.
Kesimpulan
Kondisi terjadinya korosi sangat beragam, bergantung pada lingkungan serta zat yang menjadi pemicunya. Oleh karena itu, langkah paling penting dalam upaya pencegahan karat adalah memilih material dan metode perlindungan yang tepat, sesuai dengan kondisi penggunaan dan kebutuhan aplikasinya.
Perlindungan korosi melalui pengendalian lingkungan bertujuan menciptakan kondisi yang tidak mendukung terjadinya korosi, baik dengan mengurangi faktor penyebabnya maupun dengan menambahkan inhibitor korosi. Metode ini terbukti efektif dalam memperpanjang umur pakai struktur serta menjaga kinerja material tetap optimal dalam jangka panjang.
Secara umum, korosi dapat diklasifikasikan ke dalam berbagai jenis berdasarkan lingkungan dan mekanisme terjadinya. Sejalan dengan itu, telah dikembangkan beragam sistem pelapisan seng dan bahan pelindung berbasis seng yang dirancang khusus untuk menghadapi masing-masing jenis korosi. Dengan demikian, pemilihan metode perlindungan yang sesuai menjadi faktor kunci agar sistem proteksi dapat bekerja secara maksimal, efisien, dan tepat sasaran.
Sumber : monotaro.com



















































































































































%20%26%20Pengelasan/Penyemprot%2C%20Oli%2C%20Gemuk/Pembersih%20Industrial/Pembersih%20Rem/REXCO%2018%20Specialist%20Contact%20Cleaner/aeP101002374-3.jpg)
%20%26%20Pengelasan/Penyemprot%2C%20Oli%2C%20Gemuk/Pembersih%20Industrial/Pembersih%20Rem/CRC%20CO%20Contact%20Cleaner/P102075708-1.jpg)
/NIPPON%20PAINT%20Bodelac%202-in-1%20Anti%20Karat%2016kg/rnP103146995-1.jpg)
%20%26%20Pengelasan/Penyemprot%2C%20Oli%2C%20Gemuk/Pembersih%20Industrial/Pembersih%20Rem/Hexachem%20Rust%20Preventive%20Oil%20Based/htP107966641-1.jpg)








